Dilema Bawa Laptop ke Mana-Mana

Minggu lalu, suami ngajak kencan berdua nonton film Wonder Woman pas anak-anak lagi boci. Benernya aku udah ada feeling, males ah, kerjaan masih numpuk banyak… Tetapi suami ngotot: kita perlu refreshing. Mana Wonder Woman udah nggak diputer di bioskop non-reguler. Maksudnya, sejak kuperkenalkan ke Gold Class – yang kursinya kayak pesawat kelas bisnis, bisa buat tiduran, mas bojo jadi kecanduan.

Eh lah, pas mau antre tiket, “ping” e-mail bunyi semua. Project Manager kirim reminder aku lupa menggarap satu file. Maklum, baru semingguan ini sistemnya pindah, dan aku kurang tertib dalam mengisi Excel-ku daftar kerjaan sesuai deadline. Beginilah nasibku sebagai game localizer, perlu kedisiplinan tinggi. Sebenarnya asyik sih kerjaannya, I love it so much, duitnya juga bagus… Tetapi kalau nggak ada komputer dan harus menggarap di layar ponsel… Aduh… Perbandingannya, kalau ada proper keyboard, itu kerjaan bisa selesai dalam 5 menit, di layar ponsel, jadi hampir setengah jam!

Itu baru satu ya. Ada beberapa proyek game dengan Cloud-based software yang nggak bisa digarap di ponsel. Sering banget aku harus nolak duit karena lagi “di luar” tanpa akses ke laptop. Suami bilang: ya belum rezekimu. Tapi aku selalu berpikiran: seandainya tadi aku nggak ikut pergi… Seandainya aku punya laptop ringan… Kebayang kan sedihnya nolak rezeki…

Aku dan KGTP di restoran
Aku menolak angkut-angkut laptop utamaku karena beliau (kunamai Kanjeng Gusti Thinkpad)  sudah uzur (belinya pas mau married, which is udah 5 tahun lebih)… Dan isi software-nya banyak banget, bikin aku ketar-ketir kalau harus reformat ulang, atau kalau *amit-amit* dicolong… itulah dilemanya pergi bawa-bawa laptop di Indonesia...